Sementara itu, pengguna dengan tingkat ketergantungan yang lebih berat akan diarahkan untuk menjalani rehabilitasi rawat inap di fasilitas yang tersedia.
BNN juga memperkuat peran sekolah sebagai bagian dari sistem pencegahan dan rehabilitasi. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas guru dalam melakukan screening atau deteksi dini terhadap siswa yang mulai menunjukkan indikasi penyalahgunaan narkoba.
Deteksi sejak tahap awal diharapkan dapat mencegah penyalahgunaan berkembang menjadi ketergantungan.
Selain itu, sejumlah program di sekolah juga dikembangkan dengan pendekatan peer support atau dukungan sebaya. Pendekatan tersebut dinilai penting karena remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan.
“Jadi sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk melakukan pencegahan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya rehabilitasi. Ada beberapa sekolah yang kami berikan penguatan agar mampu melakukan pendampingan dan rehabilitasi bersama,” ujar Yosi.
Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Terus Diperluas
BNN juga mengembangkan program rehabilitasi berbasis masyarakat agar proses pemulihan tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan.
Salah satunya melalui Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) yang mengedepankan prinsip dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Melalui program tersebut, masyarakat dilibatkan dalam memberikan edukasi, pendampingan, hingga membantu proses pemulihan pengguna narkoba di lingkungannya.
Saat ini, program IBM telah diterapkan di 1.437 wilayah di Indonesia. Namun, jumlah tersebut masih jauh dibandingkan jumlah desa di Indonesia yang mencapai lebih dari 50 ribu desa sehingga pengembangan program akan terus dilakukan.





