Konten perusahaan yang dianggap terlalu dibuat-buat menjadi salah satu alasan Gen Z mengurungkan niat melamar. Selain itu, unggahan politik yang kontroversial, pesan yang tidak konsisten, serta komentar negatif dari pelanggan atau mantan karyawan juga menjadi pertimbangan.
Bagi Gen Z, media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat hiburan. Platform tersebut telah menjadi sumber informasi karier sekaligus ruang untuk menilai apakah suatu perusahaan sesuai dengan nilai dan ekspektasi mereka.
Nasihat Media Sosial Pengaruhi Keputusan Karier
Riset tersebut juga menunjukkan bahwa konten media sosial memiliki pengaruh besar terhadap keputusan karier Gen Z. Sebanyak 60 persen responden mengaku pernah berpindah bidang pekerjaan setelah mengikuti nasihat karier yang mereka lihat secara online.
Selain itu, 41 persen memulai bisnis sampingan, 36 persen berhenti dari pekerjaan, dan 31 persen mulai bekerja sebagai pekerja lepas atau freelancer.
Namun, tren ini juga memiliki risiko. Sebanyak 94 persen responden mengaku pernah mengikuti nasihat karier di internet yang kemudian terbukti menyesatkan atau berdampak buruk terhadap pencarian kerja mereka.
Karena itu, meski media sosial semakin penting dalam dunia kerja, informasi yang diperoleh tetap perlu disaring dan dibandingkan dengan sumber yang terpercaya.
Fenomena ini menjadi sinyal bagi perusahaan untuk mulai lebih aktif membangun citra melalui media sosial. Konten mengenai suasana kantor, aktivitas karyawan, hingga budaya kerja dinilai lebih menarik bagi Gen Z dibandingkan sekadar menampilkan informasi formal mengenai perusahaan.
SUMBER: KOMPAS





