Perbatasan hari ini adalah ruang siber yang rentan disusupi oleh hoaks, disinformasi, dan propaganda asing yang berpotensi memecah belah bangsa. Di sinilah letak keindahan visi sang diplomat berseragam: keamanan siber tidak akan pernah tercapai secara absolut jika Polri berjalan sendiri tanpa merangkul pers.
Mantan Kabinda Yogyakarta ini, menawarkan tiga solusi taktis yang sangat konkret. Pertama, gagasan pembentukan Crisis Center dan Media Center Bersama sebagai pusat konfirmasi kilat antara Humas Polri dan jurnalis. Melalui sistem ini, verifikasi isu hoaks diselesaikan dalam hitungan menit sebelum informasi beracun terlanjur menyebar luas.
Kedua, inisiasi Joint Cyber Literacy Program, yaitu gerakan kolaboratif di mana Polri dan pers turun langsung ke desa-desa pelosok perbatasan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya “jempol ceroboh” dan literasi hukum.
Ketiga, pembentukan Forum Komunikasi Kamtibmas Siber Berkala sebagai ruang rutin untuk memetakan tren disinformasi lokal, membedah isu geopolitik sensitif, serta deteksi dini konflik sosial.
Melihat sosok Irjen Pol Andry Wibowo, kita melihat harapan besar tentang bagaimana institusi Polri dan pers bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Kehadirannya pada agenda UKW KJK yang akan digelar pada29 – 30 Agustus 2026 mendatang bukan lagi sekadar formalitas seorang pejabat.
Kehadirannya adalah hadirnya seorang pemikir, seorang kakak, dan seorang jenderal berwawasan global yang ingin memastikan bahwa wartawan di tapal batas memiliki kompetensi serta integritas tinggi untuk menjaga kedaulatan digital bangsa.
Kedekatannya yang tulus dan pemikirannya yang visioner adalah inspirasi nyata bahwa dedikasi tertinggi seorang abdi negara adalah ketika ia mampu menyentuh hati rakyatnya melalui kolaborasi dan aksi nyata.
“Dalam keadaan sesulit apapun, pemimpin harus berada bersama sama pengikutnya,” tulis suami Aryati Marjuki ini.





