Nyanyang menegaskan, letak geografis Kepri yang berada di kawasan Selat Malaka dan berdekatan dengan Singapura serta Malaysia memberikan peluang besar untuk memperkuat konektivitas ekonomi regional.

Kedekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan perdagangan, meningkatkan akses pelaku usaha ke pasar internasional, serta membuka peluang investasi di berbagai sektor produktif.

“Dengan kata lain, kami berada di salah satu jalur perdagangan internasional yang sangat strategis. Kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia memberikan peluang besar bagi Kepri untuk terus mengembangkan konektivitas ekonomi, memperluas pasar, dan menarik investasi berkualitas,” katanya.

Dari sisi infrastruktur ekonomi, Kepri memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga kawasan industri yang mendukung aktivitas manufaktur dan perdagangan lintas negara.

Ekosistem ekonomi Batam-Bintan-Karimun juga menjadi salah satu modal untuk memperkuat daya tarik investasi sekaligus mendorong keterhubungan industri daerah dengan rantai pasok global.

Menurut Nyanyang, potensi tersebut perlu terus dipromosikan melalui forum internasional agar peluang kerja sama tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berkembang menjadi kemitraan bisnis yang memberikan manfaat bagi perekonomian daerah.

“Kepri memiliki fondasi yang kuat untuk mengambil peran lebih besar dalam perdagangan dan investasi internasional. Kami memiliki kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta ekosistem ekonomi yang telah lama terkoneksi dengan pasar internasional,” ungkapnya.

Selain kawasan industri dan perdagangan, pemerintah daerah juga melihat peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya kelautan dan perikanan.

Wilayah laut yang luas membuka potensi pengembangan industri perikanan, pengolahan hasil laut, serta produk bernilai tambah yang dapat dipasarkan ke pasar regional maupun internasional.