NUSANTARANEWS.ASIA, Batam – Suasana penuh dinamika mewarnai jalannya Musyawarah Daerah (Musda) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Provinsi Kepulauan Riau yang digelar di Harmoni One Hotel, Batam Center, Kota Batam, Minggu (28/6/2026) sore.
Puncak agenda organisasi petani terbesar itu akhirnya menetapkan Nyanyang Haris Pratamura secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah HKTI Provinsi Kepulauan Riau periode 2026-2031.
Musda yang dihadiri jajaran pengurus daerah, tujuh Ketua DPC kabupaten/kota, serta ratusan peserta itu sempat berlangsung singkat namun sangat padat hingga akhirnya forum mencapai satu keputusan bulat.
Dimana seluruh kabupaten/kota menyampaikan dukungan yang mengerucut pada satu nama yang sama: Nyanyang Haris Pratamura.
Riuh tepuk tangan menggema di ruang sidang ketika dukungan mulai menguat secara kolektif. Tidak ada nama lain yang diajukan. Forum kemudian memasuki tahapan konfirmasi akhir.
Pimpinan sidang lalu menanyakan kepada seluruh peserta Musda apakah seluruh peserta sepakat menetapkan Nyanyang Haris Pratamura sebagai Ketua DPD HKTI Provinsi Kepri secara aklamasi.
Serentak peserta forum menjawab lantang, “Setuju!”
Momentum puncak pun terjadi ketika pimpinan sidang mengambil palu persidangan dan mengetuk keputusan yang menandai berakhirnya proses pemilihan.
“Dengan ini Musyawarah Daerah HKTI Provinsi Kepulauan Riau menetapkan Saudara Nyanyang Haris Pratamura sebagai Ketua DPD HKTI Provinsi Kepulauan Riau secara aklamasi. Sah!”
Tokkk!
Ketukan palu langsung disambut gemuruh tepuk tangan panjang seluruh peserta yang memenuhi ballroom Harmoni One. Sejumlah peserta berdiri memberikan standing applause sebagai simbol dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru HKTI Kepri.
Dalam pidato pertamanya usai ditetapkan secara aklamasi, Nyanyang Haris Pratamura yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Kepulauan Riau menyampaikan rasa syukur atas amanah besar yang diberikan seluruh pengurus kabupaten/kota.
Ia lebih dulu memberikan apresiasi kepada seluruh Ketua DPC HKTI yang baru saja dilantik.
“Selamat kepada para Ketua DPC yang tadi sudah dilantik bersama seluruh struktur organisasi. Alhamdulillah dari pagi pelantikan berjalan lancar, mulai dari pelantikan Wanita Tani Indonesia hingga agenda Musda sore hari ini,” ujarnya.
Nyanyang mengatakan amanah yang diberikan seluruh Ketua DPC menjadi tanggung jawab besar yang akan dijalankannya dengan penuh komitmen.
“Alhamdulillah hari ini saya diamanahkan seluruh Ketua DPC untuk menjalankan tugas sebagai Ketua DPD HKTI Provinsi Kepulauan Riau. Saya akan menjalankan amanah ini dan memperjuangkan para petani yang ada di Provinsi Kepulauan Riau,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Nyanyang juga membangun semangat peserta melalui pantun yang disambut meriah seluruh hadirin.
Pergi ke ladang menanam padi,
Padi menguning tanda berjaya.
Selamat datang kepada hadirin yang saya hormati,
Bersama HKTI membangun petani yang sejahtera.
Suasana ballroom kembali dipenuhi tepuk tangan meriah setelah pantun tersebut dibacakan.
Nyanyang menegaskan kepemimpinannya di HKTI tidak hanya berbicara soal pertanian, tetapi juga kesejahteraan hidup petani secara menyeluruh.
Menurutnya, petani di Kepulauan Riau harus memiliki akses pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka, kehidupan ekonomi yang layak, serta pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
“Petani Kepri harus sejahtera. Jangan sampai petani susah menyekolahkan anaknya, jangan sampai kesulitan ketika membutuhkan layanan kesehatan. Ke depan kita ingin petani cukup membawa KTP dan harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” katanya.
Nyanyang juga menyoroti tantangan geografis Kepulauan Riau yang membuat sektor pertanian memiliki karakter berbeda dibanding daerah lain di Indonesia.
Ia menjelaskan wilayah Kepri didominasi lautan, sementara lahan daratan sangat terbatas.
“Provinsi Kepulauan Riau ini bukan penghasil padi besar, bukan penghasil jagung besar. Daratan kita hanya sekitar 2 persen, selebihnya wilayah laut. Tapi kita harus bertahan bagaimana sektor pertanian ini tetap berjalan dan menjaga inflasi daerah,” jelasnya.
Ia menyebut kondisi tanah di beberapa wilayah seperti Natuna, Anambas hingga Lingga memiliki karakteristik berbeda karena kandungan mineral seperti bauksit, timah, besi, hingga unsur lainnya sehingga membutuhkan rekayasa pertanian yang tepat.
Dalam paparannya, Nyanyang juga membuka fakta bahwa kebutuhan pangan di Kepulauan Riau masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Untuk komoditas protein hewani saja, kebutuhan masyarakat tergolong sangat besar.
“Kebutuhan ayam di Kepri sehari bisa mencapai 300 ton. Untuk telur, kebutuhan kita sekitar 3 juta butir per hari. Sayur-sayuran juga sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah, mulai dari Medan, Padang, Lampung, Makassar bahkan Lombok,” ungkapnya.
Karena itu, ia menegaskan HKTI Kepri di bawah kepemimpinannya akan fokus membangun sistem pertanian yang lebih terintegrasi melalui penguatan kelompok tani, urban farming, dan pengembangan ketahanan pangan berbasis karakteristik wilayah.
“Kita harus mengintegrasikan semua potensi pertanian yang ada. Sudah ada kelompok tani, sudah ada urban farming, tapi belum terhubung secara maksimal. Ini yang akan kita bangun untuk ketahanan pangan Provinsi Kepulauan Riau ke depan,” tutup Nyanyang. (Iman Suryanto)






