Kondisi tersebut membuat investor global meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi, yang kemudian dapat tercermin pada pelemahan nilai tukar rupiah.

Dampak ke IHSG dan Pasar SBN

Sementara itu, dampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan sangat bergantung pada persepsi pasar terhadap arah kebijakan gubernur BI berikutnya.

IHSG berpeluang menguat apabila pasar menilai pengganti Perry Warjiyo memiliki kebijakan yang lebih dovish sehingga meningkatkan ekspektasi likuiditas.

Namun, jika transisi kepemimpinan justru memunculkan ketidakpastian atau persepsi adanya intervensi politik, risiko arus modal keluar (capital outflow) dapat meningkat dan menekan IHSG.

Dampak lainnya juga berpotensi terasa di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Investor dapat meminta premi risiko yang lebih tinggi sehingga mendorong kenaikan imbal hasil atau yield SBN.

“Apalagi jika pasar meragukan kesinambungan kebijakan moneter yang selama ini relatif kredibel dalam menjaga inflasi dan stabilitas rupiah,” kata Ronny.

Pasar Takut Ketidakpastian

Ronny menilai pengunduran diri Perry Warjiyo menjadi momentum penting bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk memastikan proses transisi kepemimpinan BI berjalan mulus, transparan, dan berbasis meritokrasi.

Jika proses tersebut berlangsung baik, dampak negatif terhadap pasar dapat segera diredam. Sebaliknya, ketidakjelasan arah kebijakan atau munculnya persepsi politisasi dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah, pasar obligasi, dan pasar saham.

“Intinya, pasar tidak takut pada perubahan, pasar takut pada ketidakpastian tanpa arah. Dan saat ini, kuncinya ada pada bagaimana transisi di Bank Indonesia ini dikelola dengan baik dalam beberapa minggu ke depan,” tandasnya.

SUMBER: KONTAN