Amsakar menilai pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih juga menjadi bagian dari upaya mengatasi kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, salah satu persoalan yang membuat masyarakat kesulitan memperoleh pekerjaan adalah ketidaksesuaian keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja.
Karena itu, pendidikan sejak usia dini hingga jenjang menengah perlu diarahkan untuk membangun SDM yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan ekonomi Batam.
“Kalau selama ini ada ungkapan bahwa kami ini susah sekali mendapat kesempatan kerja, penjelasannya karena skill yang kita miliki tidak sejalan dengan kebutuhan pasar,” kata Amsakar.
Ia berharap keberadaan sekolah tersebut dapat membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari wilayah hinterland seperti Galang, Bulang dan Belakang Padang.
Amsakar juga menaruh harapan agar anak-anak dari wilayah tersebut nantinya mampu mengambil peran dalam perkembangan ekonomi Batam.
“Mimpi saya ke depan, Indonesia Emas 2045 ini ada anak-anak Galang yang tampil, ada anak-anak Belakang Padang yang tampil, ada anak-anak Bulang yang tampil dan dapat mewarnai perjalanan Batam ke depan,” ujarnya.
Dengan konsep pendidikan terpadu dan dukungan berbagai fasilitas, Sekolah Terintegrasi Merah Putih diharapkan tidak hanya menjadi proyek pembangunan fisik, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas SDM sekaligus menjaga daya saing ekonomi Batam di tengah perubahan kebutuhan industri.
Amsakar mengatakan, pembangunan sekolah tersebut ditargetkan terus berjalan hingga dapat menerima peserta didik dalam beberapa tahun ke depan.
“Selama kita bertekad, insya Allah jalannya selalu ada,” katanya. (Iman Suryanto)





