NUSANTARANEWS.ASIA, BATAM — Investasi sektor kesehatan di Kota Batam, Kepulauan Riau, kembali bergerak. Mayapada Group segera merealisasikan pembangunan rumah sakit dalam kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata kesehatan dengan nilai investasi sekitar Rp1,7 triliun.

Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan proses penyelesaian lahan untuk pembangunan rumah sakit tersebut terus dipercepat. Dari total kebutuhan lahan, sekitar 1,6 hektare telah mendapatkan penyelesaian perizinan lahan (PL).

Sementara itu, lahan seluas sekitar 1,2 hektare masih dalam proses untuk mendukung kebutuhan fasilitas penunjang rumah sakit, termasuk area parkir dan bangunan pendukung.

“Urusan berkaitan dengan PL sudah kita selesaikan di 1,6 hektare. Sementara yang 1,2 hektare masih berproses,” ujar Fary.

Menurut dia, pembangunan proyek tersebut tidak menunggu seluruh proses administratif selesai secara bersamaan. Pengelola KEK pariwisata kesehatan disebut telah mempersiapkan tahapan pembangunan dan mulai mengirimkan alat berat pada pekan depan.

Proses pembangunan akan berjalan paralel dengan penyelesaian sejumlah dokumen teknis, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

BP Batam memasukkan proyek kawasan ekonomi khusus pariwisata kesehatan tersebut ke dalam daftar ready to invest, yakni proyek investasi yang diprioritaskan untuk dipercepat realisasinya.

Fary mengatakan percepatan itu merupakan bagian dari agenda BP Batam untuk mendorong sejumlah proyek prioritas dapat segera memasuki tahap pembangunan dan peluncuran.

“Kita masukkan dalam list ready to invest. Ada beberapa yang kita prioritaskan untuk kita percepat. Dalam waktu 100 hari ini sudah harus launching,” katanya.

Ditargetkan Mulai Dibangun November

Fary menyebut pembangunan rumah sakit Mayapada Group ditargetkan mulai berjalan pada November 2026, dengan target penyelesaian proyek pada 2027.

Bangunan rumah sakit sendiri akan menjadi tahap utama pembangunan. Sementara fasilitas pendukung seperti area parkir dan bangunan penunjang lainnya akan mengikuti tahapan pengembangan kawasan.

“Targetnya itu 2027,” kata Fary.

Secara keseluruhan, luas kawasan yang disiapkan untuk pengembangan rumah sakit dan fasilitas pendukung disebut mencapai sekitar 2,9 hektare.

Investasi sekitar Rp1,7 triliun tersebut diharapkan memperkuat posisi Batam sebagai salah satu tujuan investasi sektor kesehatan sekaligus mendukung pengembangan KEK Pariwisata Kesehatan.

Kehadiran rumah sakit berskala besar juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan ekosistem layanan kesehatan di Batam sehingga kawasan tersebut tidak hanya bertumpu pada sektor industri, perdagangan, dan logistik.

Fary menegaskan, untuk saat ini BP Batam masih memprioritaskan penyelesaian aspek pembangunan. Adapun pola pengelolaan rumah sakit dan fasilitas setelah pembangunan akan dibahas pada tahapan berikutnya.

“Untuk sekarang kita konsentrasi selesaikan dulu pembangunannya. Kalau pengelolaan nanti akan diurutkan,” ujarnya.

Dengan masuknya proyek tersebut ke dalam daftar ready to invest, BP Batam berharap realisasi investasi sektor kesehatan dapat memberikan tambahan aktivitas ekonomi sekaligus memperluas diversifikasi investasi Batam.

Selain nilai investasi yang mencapai sekitar Rp1,7 triliun, proyek ini juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi turunan melalui kebutuhan konstruksi, jasa pendukung, tenaga kerja, serta ekosistem layanan kesehatan setelah rumah sakit beroperasi. (Iman)