NUSANTARANEWS.ASIA, BINTAN– Kinerja sektor pertanian di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali menunjukkan tren positif. Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, meninjau langsung sekaligus melakukan panen bersama Kelompok Tani (Poktan) Bintan Jaya di Desa Toapaya Utara, Kabupaten Bintan, Kamis (20/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Nyanyang mengapresiasi kualitas hasil panen komoditas unggulan seperti nanas dan pepaya california yang dinilai bebas dari serangan hama maupun virus.

Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak terlepas dari penerapan kombinasi pupuk cair dan pupuk kandang berbahan dasar kotoran ayam yang digunakan secara optimal oleh petani.

“Hasilnya bagus, tidak kena virus. Ini karena penggunaan pupuk cair dan pupuk kandang yang tepat,” ujarnya.

Selain kualitas produksi, perhatian pemerintah juga difokuskan pada aspek hilirisasi dan distribusi hasil pertanian.

Nyanyang menegaskan pentingnya dukungan fasilitas pascapanen, termasuk penyediaan keranjang khusus untuk menjaga kualitas komoditas seperti cabai, sayur katuk, dan jeruk purut hingga sampai ke konsumen.

“Perlu disiapkan keranjang agar hasil panen bisa dimaksimalkan dan kualitas tetap terjaga,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan sektor pertanian di wilayah Bintan tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga menjadi penopang suplai bagi wilayah perkotaan seperti Batam yang memiliki tingkat konsumsi tinggi.

“Ini bukan hanya untuk kebutuhan lokal, tapi juga menopang kebutuhan masyarakat Batam,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemerintah Kabupaten Bintan serta Kementerian Pertanian terus memperkuat sinergi lintas sektor guna memastikan keberlanjutan produksi dan kesejahteraan petani. Kehadiran pemerintah di lapangan menjadi bukti komitmen dalam memberikan pendampingan langsung kepada petani.

“Ini bukti nyata pemerintah hadir bersama petani,” imbuh Nyanyang.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan struktural yang dihadapi sektor pertanian, terutama terkait ketersediaan dan tingginya harga pupuk akibat biaya distribusi logistik. Untuk itu, koordinasi intensif dengan Kementerian Pertanian terus dilakukan agar penyaluran pupuk bersubsidi dapat lebih tepat sasaran dan terjangkau.

“Permasalahan utama selama ini adalah pupuk. Kami akan koordinasi agar pupuk subsidi bisa tersalurkan dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Toapaya Utara, Said, mengungkapkan bahwa harga sejumlah komoditas seperti cabai, nanas, dan pepaya saat ini berada dalam kondisi stabil dan relatif menguntungkan bagi petani. Kondisi ini menjadi angin segar di tengah fluktuasi harga komoditas lain yang cenderung melemah.

“Harga sekarang jauh lebih baik dibanding komoditas lain yang menurun,” katanya.

Dari sisi teknis budidaya, petani sempat menghadapi kendala cuaca saat musim hujan yang memicu munculnya penyakit embun bulu pada tanaman cabai. Namun, masalah tersebut berhasil diatasi melalui penanganan yang tepat sehingga kualitas hasil panen tetap terjaga.

“Memang sempat ada serangan penyakit di pucuk, tapi bisa diatasi,” jelas Said.

Produktivitas panen juga dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja. Dalam praktiknya, satu orang pekerja mampu memetik rata-rata 25 kilogram cabai dalam setengah hari, mencerminkan potensi produksi yang cukup tinggi.

Ketua Poktan Bintan Jaya, Kaharudin yang akrab disapa Ameng, menjelaskan bahwa kelompoknya mengelola lahan seluas delapan hektare yang ditanami pepaya california, nanas, dan cabai hijau. Untuk komoditas pepaya, masa tanam hingga panen perdana mencapai delapan bulan, dengan frekuensi panen setiap tiga hari sekali.

“Sejauh ini tidak ada kendala, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Harga juga masih stabil,” ungkapnya.

Dengan capaian ini, sektor pertanian Bintan dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu penopang ketahanan pangan daerah sekaligus penggerak ekonomi lokal, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas di Kepri.(iman)