NUSANTARANEWS.ASIA, BATAM – PT Batam Terminal Petikemas (BTP) mempertegas komitmennya mempercepat transformasi Terminal Petikemas Batu Ampar menjadi pelabuhan bertaraf internasional yang mampu meningkatkan daya saing logistik nasional sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai gerbang perdagangan internasional.

Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengatakan pengembangan terminal dilakukan berdasarkan perjanjian konsesi yang diberikan BP Batam setelah memperoleh persetujuan dari Kementerian BUMN. Melalui skema tersebut, BTP mendapat amanah mengelola dan mengembangkan Terminal Petikemas Batu Ampar selama sekitar 37 tahun.

“Kami mendapat amanah untuk mengembangkan Terminal Petikemas Batu Ampar dengan cita-cita menjadi hub logistik Indonesia. Tujuannya bukan hanya membangun infrastruktur pelabuhan yang modern, tetapi juga meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional,” ujar Basori dalam acara silaturahmi bersama insan media di Batam.

Menurutnya, BTP merupakan pemegang konsesi yang ditunjuk BP Batam untuk membangun terminal petikemas berstandar internasional. Dalam menjalankan operasional sehari-hari, BTP menggandeng PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) sebagai mitra strategis yang bertugas memberikan pelayanan kepada para pengguna jasa.

Basori menjelaskan, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan layanan pelabuhan yang lebih kompetitif. BACT dipilih karena memiliki pengalaman sebagai operator terminal petikemas berskala global dengan jaringan pengelolaan pelabuhan di berbagai negara.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Pengembangan terminal ini membutuhkan kemitraan yang kuat, baik dengan operator kelas dunia maupun seluruh pemangku kepentingan, termasuk media sebagai jembatan informasi kepada masyarakat,” katanya.

Seiring pengembangan tersebut, kapasitas infrastruktur Terminal Petikemas Batu Ampar juga terus ditingkatkan. Saat ini terminal memiliki panjang dermaga sekitar 1.000 meter dengan kedalaman alur antara 8 hingga 12 meter LWS serta area penumpukan petikemas seluas sekitar 12 hektare.

Dari sisi peralatan, terminal kini didukung lima unit ship-to-shore crane (STS) atau quay crane dan 12 unit rubber tyred gantry (RTG). Sebagian besar peralatan tersebut merupakan hasil investasi lanjutan setelah kerja sama pengembangan antara BTP dan BACT.

Basori mengungkapkan, modernisasi infrastruktur mulai menunjukkan hasil positif. Sepanjang 2025, volume bongkar muat petikemas di Terminal Batu Ampar mencapai sekitar 522.000 TEUs, menjadi indikator meningkatnya aktivitas logistik di Batam.

Ke depan, BTP menargetkan Terminal Petikemas Batu Ampar mampu menjadi pusat logistik yang terintegrasi dan mendukung pertumbuhan investasi, perdagangan, serta industri di Batam dan kawasan barat Indonesia.

“Kami ingin menjadikan Terminal Petikemas Batu Ampar sebagai terminal modern yang mampu bersaing secara global sekaligus memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Basori.(Iman Suryanto)