NUSANTARANEWS.ASIA, BATAM — Ajang Indonesia Marine & Offshore Expo (IMOX) 2026 di Batam tidak sekadar menjadi etalase teknologi maritim, tetapi juga menjadi arena perburuan transaksi bernilai besar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong saat ditemui KE Group pada Rabu (5/9/2026) pagi menegaskan bahwa, penyelenggaraan tahun ini menargetkan nilai transaksi mencapai USD 20 juta, meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran USD 5 juta.

“Target tahun ini sekitar USD 20 juta. Memang naik, tapi kondisinya berbeda karena pasar global masih menahan diri,” ujar Kenny.

Kenny mengakui, di tengah kondisi global yang masih diliputi krisis dan ketidakpastian, pola belanja pelaku industri mengalami perubahan. Banyak perusahaan belum agresif melakukan pembelian besar, melainkan lebih fokus pada perawatan (maintenance) dan efisiensi operasional.

Fenomena ini membuat target transaksi menjadi tantangan tersendiri. Namun di sisi lain, justru membuka peluang baru berbasis kebutuhan riil industri.

“Banyak yang datang bukan langsung beli, tapi lihat dulu. Mereka lebih fokus maintenance dibanding investasi baru,” jelasnya.

Meski pasar cenderung hati-hati, potensi transaksi tetap besar. Hal ini terlihat dari partisipasi lebih dari 20 negara dan sekitar 150 perusahaan dari berbagai sektor industri maritim.

Peserta datang dari negara-negara maju seperti Italia, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan, hingga kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Beragam sektor terlibat, mulai dari manufaktur mesin kapal, sistem keselamatan, desain dan engineering hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk monitoring. Kehadiran teknologi canggih ini menjadi salah satu faktor utama pendorong nilai transaksi.

IMOX 2026 menunjukkan pergeseran tren industri menuju digitalisasi dan otomatisasi. Equipment dan software berbasis AI menjadi daya tarik utama karena mampu meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan produksi kapal.

“Sekarang sudah masuk generasi AI. Teknologi ini bikin kapal lebih cepat, lebih aman, dan lebih sustainable,” kata Kenny.

Model pameran yang interaktif—di mana pengunjung bisa langsung mencoba dan menguji teknologi—juga memperbesar peluang terjadinya transaksi langsung maupun kerja sama jangka panjang.

Optimisme terhadap target USD 20 juta juga tidak lepas dari posisi strategis Batam sebagai pusat industri galangan kapal nasional. Sekitar 60% produksi kapal Indonesia berasal dari wilayah ini.

Selain itu, kedekatan Batam dengan Singapura dan Johor memperkuat posisinya sebagai basis operasional perusahaan maritim global. Banyak perusahaan menjadikan Batam sebagai lokasi produksi, meski kantor pusat berada di luar negeri.

“Head office banyak di Singapura, tapi proyeknya dikerjakan di Batam. Ini yang bikin transaksi di sini terus hidup,” jelas Kenny.

Permintaan pasar yang masih kuat turut menjadi penopang target transaksi. Salah satu indikasinya adalah adanya proyek pembangunan hingga 160 kapal ferry dalam satu tahun dari satu klien, yang menunjukkan besarnya kebutuhan industri terhadap equipment dan teknologi baru.

Hal ini memperkuat optimisme bahwa meskipun kondisi global belum sepenuhnya pulih, sektor maritim masih memiliki pipeline bisnis yang solid.

IMOX 2026 pada akhirnya menjadi ajang uji ketahanan industri maritim. Target transaksi USD 20 juta bukan hanya angka, tetapi cerminan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek sektor ini ke depan.

Dengan kombinasi teknologi, kebutuhan pasar, dan posisi strategis Batam, pameran ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus membuka peluang kerja sama baru lintas negara. (Iman Suryanto)